BANJARBARU, woi.com – Di balik ketenangan Rumah Tahfiz Yatim yang berdiri sejak 2020, ada perjuangan panjang seorang perempuan bernama Safarina Wulandari.
Ia bukan hanya pemilik, tetapi juga pembina yang terlibat langsung dalam proses mendidik, merawat, dan mendampingi anak-anak yatim dan dhuafa dengan berbagai latar belakang kehidupan.Rumah Tahfiz Yatim ini beralamat di Komplek Permata Hijau, Jl.Ir. P.M. Noor Blok D No 29 RT 11/03, Kelurahan Sungai Ulin, Kec. Banjarbaru Utara, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan.
Keterpanggilan jiwa sosial menjadi awal langkah Safarina membangun rumah tahfiz ini. Ia melihat banyak anak di lingkungan sekitarnya memiliki potensi keagamaan yang baik, namun belum memiliki ruang yang cukup untuk berkembang.
Berbekal pengalaman mengelola panti asuhan di Banjarmasin sebelumnya, Safarina ingin menghadirkan tempat baru dengan visi dan misi yang lebih terarah.
“Anak-anak di sini sebenarnya punya potensi keagamaan yang besar. Saya hanya ingin menyediakan wadah agar potensi itu tidak hilang,” tuturnya memulai wawancara dengan Woi.com, Kamis, (22/01/2026).
Rumah Tahfiz Yatim ini juga dibangun dengan harapan bisa berada dekat Sekumpul Kota Martapura. Lokasi tersebut dinilai memiliki nilai spiritual tersendiri dan memudahkan anak-anak ketika mengikuti kegiatan keagamaan besar, seperti Haul Guru Sekumpul. Harapan itu akhirnya terwujud, menjadi salah satu penguat perjalanan rumah tahfiz hingga hari ini.
Namun, di balik tujuan mulia tersebut, Safarina tidak menampik bahwa tantangan terbesar justru datang dari sisi emosional. Mayoritas anak binaannya berada di usia SMP dan SMA, usia yang penuh pencarian jati diri, dengan latar belakang keluarga dan trauma yang berbeda-beda.
“Hal paling berat itu mengelola emosional anak-anak. Dana memang berat, tapi itu sudah menjadi tanggung jawab kami. Ada kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, dan itu tetap harus kami selesaikan,” ungkapnya jujur.
Sebagai pengelola perempuan, Safarina kerap menghadapi kelelahan fisik dan mental. Namun, ia memilih untuk tidak bersikap keras. Baginya, memahami emosi anak-anak jauh lebih penting daripada sekadar menegakkan aturan.
“Kalau capek, saya telaah dulu kenapa perasaan saya kurang baik. Anak-anak ini usianya sensitif, kalau dikerasin, mereka akan lebih keras lagi,” katanya.
Dari sisi operasional, tantangan pendanaan menjadi persoalan yang tak terpisahkan. Kebutuhan konsumsi harian, honor tenaga pengajar yang telah diseleksi khusus, hingga biaya pendidikan anak-anak memerlukan dukungan berkelanjutan. Untuk itu, Safarina dan tim memilih jalan komunikasi.
“Kalau ada anak mau masuk sekolah, biasanya kami usahakan sekolah negeri supaya kebutuhannya lebih ringan. Selebihnya kami komunikasikan dengan donatur. Semuanya dibicarakan bersama,” jelasnya.
Saat ini, Rumah Tahfiz Yatim didukung sekitar 10 orang tim internal serta 10–15 relawan. Penggalangan dana juga dilakukan secara sederhana, salah satunya dengan menempatkan kotak donasi di beberapa titik publik.
Di tengah lelah dan tantangan, momen anak-anak meraih prestasi menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Safarina.
“Kalau mereka berhasil mencapai sesuatu, itu yang bikin semangat lagi. Kita kembali ke tujuan awal sosial dan ibadah,” ujarnya.
Ke depan, Rumah Tahfiz Yatim juga berencana membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bagi anak-anak masyarakat umum. Anak-anak dari keluarga mampu akan dikenakan sistem subsidi, yang nantinya digunakan untuk mendukung keberlangsungan rumah tahfiz dan anak-anak yatim dhuafa.
Melalui WomanofiIndonesian.com Safarina ingin menyampaikan satu pesan penting, bahwa kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk materi.
“Bantuan itu tidak harus berupa uang. Support, kehadiran, dan menganggap mereka ada, itu juga sudah merupakan bantuan,” ucapnya.
Ia berharap perjuangan ini tidak berhenti pada dirinya. “Umur tidak ada yang tahu. Tapi tujuan baik ini harus tetap berjalan, untuk kebaikan dan akhirat,” tutup Safarina.(qis/dsn)



Komentar