oleh

Mahasiswi Nyambi sebagai Content Creator, Awalnya Cuma Begini

BANJARBARU, woi.com – Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Menjalani Banyak Peran, Mengejar Mimpi sebagai Content Creator.

Menjadi content creator kini semakin diminati banyak anak muda. Dunia digital membuka peluang besar bagi mereka untuk berkarya, membangun personal branding, bahkan meraih penghasilan. Namun di balik itu, dibutuhkan konsistensi dan kerja keras untuk menjalaninya.

Salah satunya adalah Dhea (24), mahasiswi Ilmu Komunikasi yang juga bekerja di sebuah playground anak-anak. Di tengah kesibukannya, ia tetap menyempatkan diri membuat konten dan perlahan menapaki mimpinya di dunia kreatif.

Kecintaannya pada foto dan video menjadi awal perjalanan tersebut. Terinspirasi dari vlog yang sering ia tonton, Dhea mulai merekam momen bersama teman dan mengunggahnya ke YouTube hanya untuk bersenang-senang. Tak disangka, respons positif berdatangan hingga ada yang menyebutnya memiliki bakat sebagai food vlogger.

“Dari situ mulai ada yang nawarin kirim makanan atau minta dibuatin konten. Alhamdulillah aku happy jalaninnya,” ujarnya.

Meski demikian, membagi waktu antara kuliah, kerja, dan membuat konten bukan hal mudah. Proses editing menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan fokus dan konsistensi.

“Aku masih belajar supaya nggak nunggu mood dulu dan bisa lebih konsisten,” katanya.

Dhea saat membuat content.
Dhea saat membuat content.

Dhea juga kerap menghadapi overthinking dan perfeksionisme yang membuatnya lelah. Namun, ia terus menguatkan diri untuk berproses tanpa harus selalu sempurna.

“Aku selalu yakinin diri sendiri, kalau capek nggak apa-apa, pelan-pelan tapi ada hasilnya.”

Di balik keseruan menjadi content creator, ia menilai konsistensi adalah perjuangan yang jarang terlihat orang. Meski masih pemula, perjalanan ini telah membawanya bertemu banyak orang baru sekaligus memperluas wawasan. Di luar itu, Dhea juga merintis usaha jajanan pedas sejak SMK dan baru membuka jasa face painting.

Bagi Dhea, kemandirian berarti percaya pada kemampuan diri sendiri sambil tetap terbuka pada dukungan orang lain.

“Dengan kita percaya bahwa kita bisa, kita juga jadi berani menggapai apa yang kita impikan tanpa takut sendirian.”

Ke depan, ia berharap bisa lebih konsisten dan melangkah lebih jauh sebagai content creator. Ia pun berpesan kepada anak muda agar tidak takut mencoba.

“Kalau ada ketertarikan, coba saja dulu. Yang penting happy dan enjoy supaya nggak terasa berat menjalaninya.” (qis/dsn)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *